Wednesday, December 9, 2015

CAHAYA

Cahaya bulan
Cahaya lilin
Di antara jemari
Masih tampak menari
Cahaya bulan
Cahaya lilin
Tau kah kau
Arti sebuah cahaya
Sangat berarti bagi sang buta
Bulan dan lilin kini sinis
Akan hadirnya mentari
Seolah ingin selamanya buta
Bulan dan lilin
Tak kan rela
Menjemput pagi
Karna waktu
Yang tak abadi

     

HALAMAN BERIKUTNYA

ini antara aku dan tuhanku
Jika kau lupa
Silahkan buka halaman 3
Jika kau tanya tentang apa..
Ternyata aku juga lupa
Sudahilah tabiat kita
Yang mencela alam berbeda
Jika nanti sudah waktunya
Halaman 2 tak lagi ada
Terciptanya galaxy dan purnama
Itu sudah jadi takdirnya
Mungkin senja atau lusa
Sudah terlampir di halaman pertama
                                     
                                                     Jakarta 12 maret 2015 didiningrad

SUATU MALAM

Tikus tikus kecil meramaikan sudut jalan
Di atasnya berdiri gubuk sumber energi
Lihatlah lelaki setengah tua itu
Bersama putra dan putrinya
Bermain bertemakan kasih sayang
Mungkin rembulan dan bintang iri
Siapa yang peduli...
Teriak si putri"ayah"
"Iya sayang sebentar"
Hanya sejengkal ia beranjak
Seakan takut dengan perpisahan
Termenung si putra"ibu"
Hembusan angin pun tak menjawab
Hanya sebutan nenek yang ia tau
Seakan ASI tak pernah di rasa

IYA LAPISAN ZAMAN

Ia hidup tak pernah merubah takdir
Kesetiaan dan kesabaran
Menjaga hati sebuah rumah yang hangat
Demi kenyamanan penghuninya
Dengan sajian-sajian kenikmatan dan keindahan
Disebuah rutinitas hati dan jiwa
Ia seorang yang ingin terbang
Tak kala mampu memanyunginya
Dan mencoba menghisap bunga liar
Zaman terus saja bertumpuk
Tetapi ia tetap saja menjadi penjaga zaman yang baik

IBU DAN KUNANG KUNANG

kunang kunang hewan malam
namun tak seindah rembulam malam
teringat senyummu ibu di perantauan
ingin ku teriak hingga petang

maafkan aku tak pernah pulang
karna rintangan begitu membentang
jangan pernah meneteskan air mata
karna daku yang setengah malin kundang

pelukku untukmu oh ibu
kepada siapa lagi ku mengadu
bahkan tuhan tak lagi menganggapku
andaikan seribu pisau menusukku
apakah engkau bisa memaafkanku oh ibu

ibu...
perjalananmu begitu syahdu
jika engkau pernah terluka dengan kata kataku
jika engkau pernah tergores dengan sikapku
jika air mata pernah menetes karna keremajaanku
sembah sujudku untukmu OH IBU...


                                                            didiningrat